Showing posts with label Musik. Show all posts
Showing posts with label Musik. Show all posts

Celoteh Tentang Album Baru The Corrs : Jupiter Calling



1. Album ini tidak dijual di Indonesia (sedih banget). Di tokopedia ada yang jual impor dengan harga kisaran Rp 400 ribu. Pengen banget beli, tapi belum punya duit. Harga segitu kemahalan. Akhirnya saya dengerin aja via Joox.

2. Apapun yang dikeluarkan oleh The Corrs saya pasti suka. Begitu album ini mucul, sekitar sebulan playlist saya album Jupiter Calling terus. Yang unik disini adalah, konon musiknya tidak banyak ditambah bebunyian elektronik / synthesizer, sehingga effort Sharon Corr sangat terasa membuat bebunyian dalam musik ini, contoh : double stops dalam lagu Son of Solomon dan sesekali memetiknya seperti gitar dalam lagu Chasing Shadow dan Butter Flutter. Keren!

3. Album ini unik, direkam secara live. Keren banget. Tapi saya kecewa dengan kualitas audionya. Terlalu biasa aja. Kalau mau membandingkan, album Home, Unplugged dan Live In Dublin sama-sama di rekam secara live, tapi kualitas musiknya ok banget. Mau di dengerin pake speaker aktif atau pake earphone sama-sama enak dan menarik di telinga. Seharusnya semua musik dalam album Jupiter Calling ini dibuat seperti lagu Ellis Island dan With Me Stay dalam album White Light, sama-sama akustik dan direkam di studio tapi kualitas audionya terasa jernih, surround dan memanjakan telinga. Salah siapa? Produsernya?

4. Vokal Andrea Corr yang melemah. Banyak yang meng-iya-kan kalau vokal Andrea sekarang cukup parau dan tidak sebening dahulu. Pada lagu A Love Divine terasa sekali vokalnya tipis dan serak di beberapa bagian. Alangkah baiknya jika vokal Andrea di poles  lagi agar terdengar lebih kuat dan mulus. 
Sepertinya Andrea sudah sulit mencapai nada-nada tinggi, hal ini juga yang menyebabkan beberapa musik diturunkan nadanya. Beberapa lagu dirasakan terlalu rendah untuk disenandungkan.

5. Beberapa lagu yang saya sukai di album ini, 
  1. Chasing Shadows
  2. Son of Solomon
  3. Butter Flutter
  4. Dear Life
  5. Hit My Ground Running
  6. Season of Our Love
  7. A Love Divine
Album ini menurut saya adalah album The Corrs yang paling folk, paling unik, paling mellow dan gloomy yang pernah saya dengar dari The Corrs. Semakin lama saya mendengarkan album ini, semakin saya merindukan album White Light, In Blue atau Talk On Corners. Saya amat sangat merindukan keseimbangan musik yang ditawarkan pada White Light. Saya menemukan The Corrs yang kekinian pada lagu I Do What I Like dan bisa merasakan atmosfir kesederhanaan dan ketradisionalan The Corrs dalam lagu Ellis Island, atau The Corrs yang kembali ke "kodratnya" yaitu Irish pop rock with catchy tune dalam lagu Stay. Sangat disayangkan tidak ada lagu instrumental dalam album ini. Beberapa track dalam lagu ini memang keren dan saya suka, tapi secara keseluruhan, Album ini kurang dapat menarik hati saya untuk mendengarkan keseluruhan lagu. Sorry to say, The Corrs :(

Celoteh Tentang Album Baru The Corrs : White Light

Tanggal 27 November 2015 jadi hari bersejarah buat semua HardCorr Fans, karena The Corrs akhirnya mengeluarkan album lagi setelah album terakhir Home di tahun 2005. Saya akhirnya beli album digitalnya di iTunes dan rencana pengen juga beli cd fisiknya nanti kalau udah ada di toko musik di Bandung sudah beli cd fisiknya secara online. Akhirnya udah gak penasaran sama materi terbaru album mereka. Komentar saya tentang album ini, hm... 


1. I Do What I Like
Lagu pembuka album ini, gila enak banget. Saya suka lagu ini. Lagunya ceria, bernuansa elektropop tapi masih ada sentuhan Irishnya. Fresh Music. Nunjukin kalau The Corrs musiknya gak kuno-kuno banget lah. 

2. Bring On The Night
Single andalan di album ini. Secara tune, irama dan lirik lagu ini enak dengan bridge yang unik di pertengahan lagu. Kalau menurut saya lagu ini kurang suara bassnya. Jadi rasanya sedikit kosong aja sih.

3. White Light
Lagu yang katanya terinspirasi dari tragedi artis-artis luar sana yang meninggal di usia 27 tahun. Saya suka sama beatnya yang cepat dan musiknya yang lumayan catchy. Kalau menurut saya, kayanya lebih asik kalau pake suara gitar distorsi biar lebih rock gitu..

4. Kiss Of Life
Standout track! Musiknya enak, suara Andreanya bagus, liriknya enak, bridgenya unik dinyayiin seluruh personil The Corrs. Fantastis lah ini lagu.

5. Unconditional
Lagu ini awalnya kaya yang boring ya, tapi pas bagian reffnya enak banget, macem pop disko lah yah hahaha... Lagu ini sebenernya beda banget sama kepribadian The Corrs, tapi kalau mereka mau mencoba sesuatu yang baru dan fresh biar agak kekinian dan hasilnya bagus, why not?

6. Strange Romance
Satu hal tentang lagu ini... ada suara bodhran-nya!! Udah gitu aja.. selebihnya, ini lagu balad yang cukup manis tapi kalau lama-lama didengerin bikin giung ya.. Enak tapi ngebosenin sih.. maaf. Suara vokal Andrea pun tidak terlalu ok di lagu ini, kaya yang lagi serak dipaksa nyanyi.

7. Ellis Island
Simple, sweet, beautiful. Another standout track. Suka banget sama harmonisasi vokal dan musiknya yang gak terlalu rame. Cukup dengarkan dan resapi saja.

8. Gerry's Reel
Sudah tradisi dalam setiap album The Corrs pasti ada lagu instrumentalnya. Kalau menurut saya lagu ini beda sama lagu-lagu instrumental yang pernah The Corrs simpen di album-album sebelumnya, gak terlalu negepop kaya Silver Strand dan Rebel Heart dan lebih berasa Irlandianya. Suka banget sama aura lagu ini.
9. Stay
Lagu terfavorit setelah IDWIL. Lagu super catchy yang komplit, ada countrynya, popnya, diskonya, irishnya. Lagu yang bisa bikin kita semua bergoyang dan bahagia. Semoga jadi single selanjutnya. AMIIINNNNN...

10. Catch Me When I Fall
Lagu ini katanya Sharon Corr banget. Lagu ini sebenernya enak, apalagi waktu denger teasernya di akun ig John Shanks waktu Pino Palladino lagi ngisi bagian Bassnya. Tapi suara Andrea ko bikin lagu ini jadi aneh. Kaya Andrea lagi sakit tenggorokan di suruh nyanyi gitu loh...

11. Harmony
Dari awal proyek White Light, saya penasaran banget sama lagu ini soalnya Jim pernah posting behind the scene pembuatan lagu ini. Setelah didengerin ternyata lagunya keren banget. Bikin merinding dan saya sedikit meneteskan air mata, bisa karena liriknya yang tragis dan bisa juga karena saya seperti menemukan The Corrs di lagu ini. Part terakhir, mereka menerikan tentang perdamaian. Wow.. Amazing song.

12. With Me Stay
Lagu ini adalah versi unplugged dan simple dari lagu Stay. Lirik sama lain nuansa. Kalo Stay bisa bikin semangat, With Me Stay bikin mood jadi adem. Lagu yang bagus buat jadi penutup album ini.
Overall, good job The Corrs. I love this album. Penantian 10 tahun sudah terbayarkan. Musik mereka semakin dewasa. Dari yang dulunya liriknya ringan seperti What Can I Do, Don't Say You Love Me atau Radio, sekarang liriknya jauh lebih berat seperti flame on our feet, You gotta live long enough to learn how to live atau Bring On The Night I Don't Care.
Puas dengan album ini? Belum. (Biasa lah manusia ada aja maunya.)

Album ini kurang nuansa ROCK nya. Kurang suara gitar distorsi kaya di lagu Only When I Sleep atau I Never Loved You Anyway jaman Talk On Corner. Pengennya sih The Corrs banyakin bikin lagu semacam Stay dan Harmony. Semoga ini bukan album terakhir mereka. Album selanjutnya bisa lebih sempurna! Amin.

The Corrs Kembali di 2015

Let sum this up, The Corrs adalah grup band yang saya sukai sepanjang masa. Setelah meluncurkan album Home dan video dokumenter All The Way Home, The Corrs menghilang.. hiatus bubar jalan. All the way home... mereka kembali ke rumah mereka masing-masing untuk menjalani kehidupan sebagai manusia seutuhnya (berkeluarga,mengurus anak, bersolo karir dll.) 

Selama hiatus, Andrea dan Sharon sempat membuat album solo. Album yang cukup untuk memuaskan rasa kangen para penggemar The Corrs diseluruh dunia. Persaan saya sebagai fans kala itu, bahagia bisa dengerin lagi lagu-lagu dari mereka... walaupun tak bisa dipungkiri bahwa four is better than one. Contoh, IMHO lagu Ten Feet High nya Andrea itu keren banget, tapi lebih keren kalau yang main biolanya Sharon atau lagu It's Not a Dream nya Sharon keren banget, tapi lebih seru kalau yang nyanyi Andrea. Ya.. hal-hal semacam itulah yang membuat saya tetep pengennya The Corrs gabung lagi.

2006.. 2007.. 2008.. 2009.. 2010.. 2011.. 2012.. 2013.. 2014....
Setiap tahun yang dicari di internet adalah kemungkinan The Corrs balik lagi ke industri musik. Hasilnya nihil...

Tahun 2015, kabar meninggalnya Gerry Corr adalah kabar yang paling mengharukan. Akhirnya saya melihat mereka bersama kembali dalam sebuah foto tapi dalam suasana duka. Tidak lama setelah itu, Jim mulai ngetwit behind the scene merka lagi di studio buat album baru mereka dan kabar The Corrs akan tampil live untuk pertama kali dalam 10 tahun di Hyde Park membuat saya tercengang sekaligus bahagia, Mereka Kembali, yaaaay! 



Mereka perform sekitar jam 5 sore dan di Indonesia itu udah pagi-pagi buta dan saya bela-belain streaming via radio online buat denger perform mereka. 

Sambil nunggu album 2015 mereka keluar, entah mengapa tiba-tiba lagu-lagu lama The Corrs jadi lebih sering didengerin, tiba-tiba males dengerin lagu-lagu korea, senengnya lagu-lagu The Corrs ajah hehehe.. Jadi sering baca-baca forumnya di The Corrs Club. 
The Corrs kembali dan fans bahagia lahir batin kembali. :D

Album Ke Dua Sharon Corr - The Same Sun

Sharon Corr, pemain biola dan backing vocal dari band favorit saya sepanjang masa, The Corrs akhirnya ngerilis album ke-dua yang judulnya The Same Sun. Albumnya rilis di Indonesia dalam format digital yang bisa kita beli di iTunes dengan harga 49 ribu saja.

Akhirnya browosing di YouTube nemu preview albumnya. Kesan pertama pas denger preview lagu-lagunya, waaah... sempat kecewa! Gak ada instrumen biolanya dan lagunya agak-agak slow semua gitu. Sempat malas beli albumnya. Eh.. tapi setelah baca-baca reviewnya ternyata lumayan bagus dan katanya beda banget sama album sebelumnya. Wah, penasaran! Akhirnya saya beli juga albumnya di iTunes.

  Jujur.. Kurang suka sama cover albumnya, syereemmm...... ~_~

Oke, setelah didengerin berulang-ulang, saat ini saya keranjingan sama lagu pembukanya Raindrops yang disusul lagu Take a Minute. Dua lagu down tempo yang enak banget buat chill out, nyantai, bengong sambil minum teh, aaahh... sedap! Musiknya ngingetin nuansa-nuansa jadul gitu (apa ya genrenya kurang ngerti juga saya), suka banget sama suara lembut Sharon di 2 lagu ini.

Lagu selanjutnya We Could Be Lovers cukup upbeat dan lumayan enak. Suara gitar dan drum di awal lagu seolah menyadarkan diri dari 2 lagu sebelumnya yang cukup mendayu-dayu. Lagu selanjutnya down tempo lagi, Upon an Ocean. Kepengennya sih habis lagu We Could Be Lovers, lagunya upbeat lagi tapi ya sudahlah, lagu ini enak juga, apalagi pas liriknya.. "Take me with you away upon an ocean.. Take me with you.. tonight.." pasti pada sing along deh...

Selanjutnya lagu yang bikin saya bengong seketika.. Edge of Nowhere. Lagu yang enak banget dan ngingetin saya sama lagunya "Silver Strand" nya The Corrs. Sumpah, berasa versi vokalnya lagu Silver Strand. Jadi inget The Corrs... :'( Mungkin ini satu-satunya lagu dimana kita bisa dengerin suara biolanya Sharon. Amazing Song!!!

Setelah galau di lagu Edge of  Nowhere, Sharon seolah menyapa, "Hey.. jangan galau.. nih lagu upbeat buat kamu, Ka!" Full Circle. Dengerin deh lagunya enak banget ini! Disambung lagu You Say yang lumayan up beat. Coba Sharon sedikit maen biola di lagu ini, pasti lebih mantap.

Cooling down lagi di lagu Thinking About You. Kesan "Dark" suara piano dan vokal Sharon diawal-awal lagu bikin penasaran buat dengerin keseluruhan lagu ini, benar saja begitu Reff cukup "Sweet".

Yuukk...  Chill out lagi di lagu The Runaround. Lagu santai yang enak apalagi reffnya, enak nih. Part akhirnya juga enak.. "dududum dududu... dudu.. dudu... "

Nah ini, lagu yang jadi judul albumnya, The Same Sun. Lagunya bernuansa mellow yang dark dan sangat menyentuh. Pertama denger sih gak terlalu suka, mungkin karena lagunya terlalu murung buat saya, tapi lama-lama enak juga.

Christmas Night, lagu penutup yang sangat manis dengan alunan piano yang sangat cantik. Liriknya, "I miss you.. yeah I miss you...". Kita semua kangen kamu dan keluarga mu untuk kembali, Sha.. (tuhkan malah jadi curhat....)

Saya akui, album ini cukup kehilangan nuansa "Corrs" didalamnya, tapi cobalah dengarkan keseluruhan lagunya, indah dan enak untuk dinikmati. Album ini menunjukkan bahwa Sharon masih eksis berkarya dengan seluruh bakat yang ia miliki ditengah gempuran lagu-lagu Geje yang terlalu banyak menggunakan synthesizer dan auto tune.

Sayang versi album fisiknya gak keluar di Indonesia, tapi masih bisa beli versi digitalnya di iTunes.

Bermain Tin Whistle dan Gitar

Hari minggu ini saya kedatangan pacar adik saya, Rizky. Ternyata dia pandai bermain gitar dan saat itu ia membawa gitarnya. Lalu saya bertanya, "bisa main lagu-lagu The Corrs gak?". Dia bilang tau The Corrs tapi kurang bisa lagu-lagunya. Lalu saya sodorkan beberapan lagu The Corrs yang saya suka untuk ia coba mainkan. Dan dalam beberapa jam saja, dia bisa memainkan lagu tersebut dengan gitarnya.

Akhirnya saya punya ide, bagaimana kalau kita duet mainin lagu instrumental The Corrs, saya bermain tin whistle dan dia bermain gitar.  Akhirnya dia setuju dan kami mulai berlatih. Kita mulai lagu-lagu yang singkat dan suara sulingnya yang gak terlalu ribet dan lagu yang terpilih adalah Lough Erin Shore dan Along With The Girls.

Setelah beberapa jam berlatih dan beberapa kali gagal dalam proses rekam, inilah hasilnya...



 


Eka Sakti on SoundCLoud

Eka Sakti on SoundCLoud

Halooo.... dah lama ga ngeblog nih, kesibukan dunia nyata benar-benar menyita waktu saya. Ya deadline kerjaan lah.. ya acara foto-foto lah.. ya pacaran lah.. ya mainin rpg FF 6 lah.. side job apa segala macem pokonya.

Ok, akhirnya saya memutuskan untuk membuat akun soundcloud. Yah.. saya bukan musisi, tapi saya sering ngulik fruity loops dan banyak bikin lagu-lagu ngga jelas, kebanyakan ngecover lagu orang sih. Nah, daripada saya simpen aja dilaptop mending saya coba upload aja di soundcloud. Syukur ada yang denger.

Beberapa lagu udah saya upload. Semua murni bikin lagunya pake fruity loops dan kebanyakan ngecover lagunya Homogenic, hehe.. my fav indie band. Silahkan visit halaman soundcloud saya di sini.

Me & My Whistle

Alat musik yang bisa saya mainkan hanyalah suling recorder dan piano yang hanya sebatas lagu ibu kita kartini. Tapi dari semua alat musik yang pernah saya mainkan, saya suka sekali dengan alat musik tiup seperti suling recorder. Kenapa saya suka? Karena saya menyukai grup musik The Corrs!

Andrea sang vokalis selain piawai bernyanyi, dia juga memainkan alat musik tin whistle untuk The Corrs. Darinya lah saya terinspirasi untuk memainkan semua 'whistling part' The Corrs menggunkan suling recorder Yamaha yang saya miliki. Saat ini hampir semua lagu The Corrs saya bisa mainkan menggunakan suling recorder walaupun ada beberapa note yang tidak sesuai tapi masih bisa dimainkan.

Semakin sering saya bermain suling, semakin saya mencintai musik bernuansa Celic dan Irish. Semuanya saya coba mainkan dan ternyata sangat sulit dan rumit. Hobi saya bermain suling membuat saya semakin terobsesi untuk memiliki suling Irlandia (tin whistle) dengan harapan mempermudah saya memainkan lagu Celtic. Akhirnya mulai mencari di toko alat musik, namun tidak ada yang menjual tin whistle :(
Akhirnya saya berhasil membeli sebuah tin whistle Black Feadóg di internet dengan harga yang cukup mahal untuk sebuah suling, namun semuanya terbayar oleh rasa puas dan gembira karena alat musik yang saya inginkan sejak dulu akhirnya bisa saya miliki.



Setelah saya coba memainkannya untuk beberapa saat, ternyata tin whistle black feadog ini cukup ringan dan nyaman di pegang. Mouth piece-nya cukup imut tidak sebesar suling recorder sehingga mulut saya tidak perlu 'monyong'. Untuk saya yang sudah terbiasa dengan suling recorder, butuh waktu lagi untuk menyesuaikan jari jemari ini dengan tin whistle. Kesulitan saat ini menyesuaikan nada tinggi yang kadang sulit dijangkau dan suara yang kadang sember. Mungkin karena belum terbiasa.

Sangking senangnya, setiap pulang kerja dari sore sampai malam saya selalu memainkan tin whistle ini. Mencoba memainkan berbagai lagu agar proses adaptasi semakin lancar. Saking seringnya bermain, saya selalu diprotes orang-orang rumah karena berisik malam-malam main tin whistle :D Maklum, masih euphoria nih.. :-)

Iseng-iseng upload youtube lagi belajar lagu The Corrs - Paddy McCarthy, susah dan stress...



*Cerita terkait :

Album The Triangle

Mau coba review album The Triangle band indie asal Bandung. Ya... bukan review lah, kesannya canggih banget. Ini sih cuma celoteh ngaco tapi gak ngasal dari seorang penikmat musik biasa.

Berawal dari timeline, sebuah akun twitter ngetwit yang isinya link untuk mengunduh single How Could You dari Band The Triangle. Tanpa pikir panjang (karena menjunjung tinggi sikap "yang penting gratis") langsung saya download dan saya dengarkan. Begitu saya cari tau tentang lagunya, ternyata ini bandnya Riko Mocca yang baru dan ternyata lagu ini jadi OST. film Perahu Kertas dan saya tidak sadar kalo ada lagu ini di film tersebut. Pertama kali denger lagunya, enak dan sangking enaknya saya putar terus-menerus.
*note: saya tidak sedang dalam keadaan galau atau patah hati pada saat itu. Akhirnya saya pergi ke toko CD dan langsung membeli cdnya karena saya penasaran ingin mendengar isi keseluruhan lagu di albumnya.


Albumnya unik. ada segitiga yang semakin dalam semakin mengecil. Entah ada filosofi apa dalam segitiga yang mengecil tersebut. Gambar depannya keren, ada yang sedang menutup mata, tapi tolong jangan tutup mata kalian untuk melihat art work di dalamnya, gambarnya bagus-bagus! Saya suka sekali!

Masuk ke lagu pertama, Great Below. Lagu yang lumayan enak walaupun terlalu monoton dan hampir membosankan di awal, tapi diakhir menjadi berisik dengan hentakan drum dan bunyi terompet yang hingar bingar.

Moving On. Lagu yang cukup up beat, tapi saya rasanya sih biasa saja. Lewat gitu aja...

Shadow Fall. Wow, ini lagu jawara di album ini menurut saya. Lagu low tempo yang dibuka dengan dentingan gitar dan suara distorsi gitar. Atmosfir lagu ini beda deh enak banget. Progresnya enak dari menit ke menitnya. Lagunya lumayan panjang 5 menit lebih. Puas deh kuping dan jiwa saya denger lagu ini.

Tentang Kita. Satu-satunya lagu berbahasa Indonesia di album ini.  Lagunya enak. Tenang di awal dan hingar bingar di akhir lagu. Ini sih kayanya udah jadi ciri khas lagu-lagu di album ini dan bunyi-bunyian trompetnya ngebantu banget bikin lagunya jadi lebih enak.

Should I. Lagu super mellow di album ini. Menurut saya sih lagu paling boring di album ini. Entah hati sayanya yang lagi happy pas denger lagu ini jadi gak singkron atau memang lagunya yang boring.

One-Side Affair. Lagu down tempo yang sangat manis walau liriknya cukup miris dan saya sangat menikmati lagu ini. Bonus suara teteh Risa Saraswati.

Last Days. Lagu uplifting yang lumayan ngobatin kegalauan di 2 lagu sebelumnya, tapi liriknya miris juga nih, gimana dong? Ah bingung yang penting musiknya lumayan ceria.

How Could You. Lagu ini adalah cinta pertama saya sama Band The Triangle. Top lah!

Afternoon Bird. Salah satu lagu jawara di album ini. Intronya enak dan cukup mengejutkan karena lagu yang disangka slow-slow aja tiba-tiba menggebrak dengan musik yang berisik dan temponya cepat. Keren!

Tranquility of Solitude. Lagu penutup di album ini. Sebuah lagu instrumental gitar yang cukup oke.

Akhir kata, 3 lagu favorit saya di album ini adalah Shadow Fall, How Could You dan Afternoon Bird. Albumnya bagus, lirik-lirik lagunya manis tapi miris. Beberapa lagu memang cukup membosankan, tapi selebihnya saya suka lagu-lagu di album ini.

Album Kedua Sarasvatī Adalah Album Terakhir?


Sumber: Profile Picture FB Risa Saraswati

Beberapa twit terakhir dari Risa Saraswati sempat membuat saya kaget dan haru. Isi twitnya seperti ini : 


Klik link artikelnya, bacalah dan diakhir artikel akan ada tulisan seperti ini :

Ya, album kedua Sarasvati mungkin adalah album terakhir dari Sarasvati! Entah mengapa tercetus kalimat itu dari Risa yang jujur membuat saya sebagai fansnya Sarasvati benar-benar kecewa. Seperti membangkitkan luka lama saat Risa keluar dari Homogenic, masih ingat dengan status FB-nya "Panggung itu bukan milik saya lagi" :(

Entah apa yang terjadi dengan Sarasvati sehingga memberi kabar bahwa album kedua yang sedang digarap adalah album terakhir. Bukan bermaksud bergosip, tapi mungkinkah terjadi hal-hal yang tidak enak di tubuh Sarasvati dalam proyek album ke dua ini sehingga Risa akhirnya menakdirkan bahwa Sarasvati hanya cukup sampai 2 album saja?

Takdir sudah ditentukan, tetapi takdir bukan merupakan sesuatu yang kekal dan mungkin suatu saat Sarasvati akan menarik ucapannya dan tetap berkarya sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Bisa jadi Sarasvati akan bubar dan Risa akan membuat sebuah proyek baru, hanya Risa yang tahu.

Genso Suikoden: Celtic Collection

Saya suka game rpg ala-ala genso suikoden dan saya suka musik celtic ala-ala band lunasa atau chieftain. Apa jadinya jika mereka bersatu? Surgaaaaa :))

Soundtrack game suikoden series dibuat dalam versi celtic instrumental dalam album Genso Suikoden Celtic Collection yang saat ini sudah 3 volume. Sumpah gila seneng banget begitu nemu album ini. Dari beberapa volume, saya paling suka album volume pertama. Pas denger albumnya sampe abis, saya ngerasain sesuatu yang aneh, perasaan senang, terharu, gembira campur aduk dan sulit diungkapkan kata-kata. Bayangin, disatu sisi kuping lo nikmatin banget lagu-lagunya yang super enak dan disisi lain memory indah tentang game suikoden yang lo maenin di masa lalu menyeruak datang lagi di kepala lo. Bahagia rohani banget tau ga sih..  *maap sedikit lebay tapi memang begitu adanya*.

Game suikoden yang pernah saya maenin itu suikoden 2, jaman suikoden 1 saya belom punya PS, cing.. cuma tau dari temen yang maenin, dan pas saya punya PS mau minjem cdnya hilang dan parahnya gamenya langka saat itu. Di album Genso Suikoden Celtic Collection, beberapa lagu dari game suikoden 1, 2 dan 3 di remake ulang dibikin versi celtic-nya dan semuanya enak.


Tracklist:
Little Duck (Genso Suikoden III) (03:21)
 
A Chill Wind (Genso Suikoden III) (04:50)
Salah satu lagu favorit saya. Perpaduan beberapa biola, choire dan gendang (apa ya?) membuat lagu    yang notabene slow ini keren! Diakhir akan ada hentakan drum dan ditutup dengan sesuatu yang sangat klop (hallah... bingung bahasanya).
 
Distant Mountain (Genso Suikoden) (03:55)
 
Main Theme (Genso Suikoden) (04:45)
Lagu yang paling membawa saya ke masa lalu, soalnya sering banget denger tune nya digame suikoden. Memorial sekali! Di remake menjadi lebih melankolis bikin suasana jadi haru. Serius.....
 
Shining Grassland (Genso Suikoden III) (04:55)
 
Mysterious People (Genso Suikoden III) (04:24)
 
An Old Irish Song (Genso Suikoden) (04:11)
 
To The Sealed Land (Genso Suikoden III) (05:22)
 
Journey (Genso Suikoden III) (04:17)
Dibuka dengan suara bagipipe yang kemudian hilang berganti dengan alunan manis drum, piano, biola dan suling. Jangan terbius, suara bagipipe akan muncul kembali dan menghentak telinga.

Children Are Playing In The Fields (Genso Suikoden II) (03:58)

Carried On Rippling Waves (Genso Suikoden II) (04:53)
Lagu favorit saya di album ini dan lagu yang paling bisa saya mainkan pake Tin Whistle kunci D saya. Easy listening, insturmen gitar dan sulingnya yang sederhana benar-benar membuat rileks.
 
If You Listen Carefully (Genso Suikoden II) (02:54)